5 Cerita Dongeng Anak Saat sebelum Tidur yang Memiliki kandungan Pesan Penuh Arti

5 Cerita Dongeng Anak Saat sebelum Tidur yang Memiliki kandungan Pesan Penuh Arti

Cerita dongeng anak pengantar tidur ke seorang anak ialah adat yang telah ada semenjak beberapa ratus, atau beberapa ribu tahun kemarin, dan itu masih jadi rutinitas di kehidupan setiap hari banyak keluarga.

Walau keliatannya gampang untuk bercerita cerita simpel, bila Anda jeli memerhatikannya, Anda akan selekasnya mengetahui jika itu menjadi dampak yang kuat pada anak-anak dan bisa mempunyai beragam faedah yang luas.

Salah satunya faedah paling penting dari share dongeng anak saat sebelum tidur dengan ialah bisa menolong membuat kegiatan rutin yang membuat mereka sudah siap untuk tidur.

Secara biologis, manusia ialah makhluk rutinitas yang ternyaman saat mempunyai rangka kerja yang bisa dihandalkan oleh jam badan kita. Keterikatan ini lebih bernilai untuk anak-anak karena mereka tidak bisa menyesuaikan seperti orang dewasa.

Pastikan jika Anda membacakan dongeng anak saat sebelum tidur tiap malam bisa menolong perkuat rangka itu dengan memberikan otak mereka signal penting untuk bersiap-sedia untuk istirahat.

Sebuah dongeng dapat mempunyai imbas emosional yang positif pada tidur. Bila anak-anak Anda betul-betul nikmati dongeng itu, itu kemungkinan salah satunya yang memikat pada hari mereka, jadi mereka lebih condong menunggu jam tidur.

Berikut sejumlah dongeng anak saat sebelum tidur yang dapat dibacakan ke sang anak:

Dongeng Anak Saat sebelum Tidur Pendek


Semut dan Merpati

Di suatu hari, ada satu ekor semut yang jalan-jalan cari makan di tepi sungai. Seperti umumnya, ia jalan dengan ria dan karena kurang berhati-hati mendadak dia jatuh ke sungai. Arus sungai menghanyutkannya, semut itu muncul terbenam dan kecapekan usaha untuk menyisih tetapi gagal.

Satu ekor burung merpati yang kebenaran menempati di ranting pohon yang membentang di atas sungai menyaksikan semut yang nyaris terbenam dan berasa kasihan. Burung merpati ini menuai daun dan menjatuhkannya didekat semut. Semut merayap naik ke atas daun dan pada akhirnya sukses selamatkan dianya dengan kontribusi daun itu, landing di pinggir sungai.

Selang beberapa saat, si semut menyaksikan seorang pemburu burung sedang pelan-pelan usaha dekati burung merpati yang sudah menolongnya barusan. Semut mengetahui bahaya yang membuntuti merpati yang bagus itu, selekasnya lari dekati pemburu, dan menggigit kaki si pemburu.

Pemburu itu kesakitan dan kaget, mengibaskan ranting yang semula akan dipakai untuk tangkap burung. Burung Merpati mengetahui kehadiran pemburu yang repot mengibas-ngibaskan ranting kesakitan. Pada akhirnya si burung juga terbang selamatkan dianya.

Dongeng Biji Pohon Oak Dan Labu (Jean de La Fontaine)

Seorang petani yang tinggal di dusun satu saat berpikiran mengenai besarnya sebuah labu dan kecilnya tangkai di mana labu itu tumbuh.

“Apa yang Tuhan pikir kurang lebih ya?” ucapnya dalam diri sendiri. “Tuhan kemungkinan tumbuhkan labu itu di tangkai yang kurang tepat. Andaikan saya yang membuat labu ini, saya akan tumbuhkan dan menggantungnya di pohon oak. Semestinya di sanalah tempat yang akurat. Buah yang besar, selayaknya datang dari pohon yang besar! sangat sayang!” ucapnya ke diri kita.

“Sebagai contoh, biji pohon oak ini, yang sekecil jemari tangan saya, semestinya digantungkan pada tangkai labu yang kurus ini.”

Karena kebanyakan berpikiran dan bercita-cita, petani itu jadi mengantuk dan tiduran di bawah pohon Oak, dan sesaat kemudian, ia tertidur dengan nyenyak.

Saat itu sebuah biji pohon oak jatuh pas di atas hidungnya. Petani itu kaget dan terjaga dari tidurnya sekalian menyeka hidungnya yang kesakitan dan keluarkan darah.

“Aduh.. aduh..!”teriaknya, “Hidungku berdarah, bagaimana andaikan suatu hal yang lebih berat jatuh dari pohon ini dan menerpa kepala saya; bagaimana andaikan biji pohon oak ini ialah sebuah labu? Saya semula menyangsikan ciptaan-Nya, saat ini saya sudah pahami semua dengan prima.”

Lalu si Petani itu juga beri pujian dan mengucapkan syukur ke Tuhan sekalian jalan pulang ke tempat tinggalnya.

 

Dongeng Anak Saat sebelum Tidur Penuh Pesan


Semut dan Kepompong

Satu ekor semut merayap dengan lincah di bawah cahaya matahari. Memanjat pohon, dan mencari ranting dengan gesit. Ia mencari makanan saat mendadak ia menyaksikan kepompong bergantung di selembar daun.

Kepompong itu kelihatan mulai bergerak sedikit, pertanda apa yang telah ada didalamnya akan selekasnya keluar. Beberapa gerakan dari kepompong itu mengundang perhatian semut yang baru pertama kalinya ini menyaksikan kepompong yang dapat bergerak.

Ia merapat dan berbicara,”Aduh kasian sekali kamu ini” kata semut itu dengan suara di antara kasihan dan mengejek.

“Nasibmu malang sekali, sementara saya dapat lari ke sana kesini sekehendak hatiku, dan jika saya ingin saya dapat memanjat pohon yang paling tinggi sekalinya, kamu terjebak dalam kulitmu, cuman dapat gerakkan sedikit saja badanmu.”

Kepompong dengar semuanya yang disebutkan oleh semut, tetapi ia diam saja tidak menjawab. Sekian hari selanjutnya, saat semut kembali ketempat kepompong itu, ia kaget saat menyaksikan yang kepompong itu telah kosong yang ada tinggal cangkangnya.

Saat ia sedang bertanya dalam hati apa yang terjadi berisi dari kepompong itu, mendadak ia rasakan embusan angin dan ada kepakan sayap kupu-kupu yang cantik ada berada di belakangnya.

“Wahai semut, lihatlah diriku saat ini baik” kupu-kupu yang cantik menegur semut yang terheran menyaksikannya.

“Akulah makhluk yang kau kasihani kemarin! Waktu itu saya masih tetap ada dalam kepompong. Saat ini kau bisa menyombong jika kau dapat lari cepat dan memanjat tinggi. Tetapi kemungkinan saya tidak peduli, karena saya akan terbang tinggi dan tidak dengar apa yang kau ucapkan.”

Sekalian berbicara begitu, kupu-kupu itu terbang tinggi ke udara, melalui embusan angin, dan dalam waktu cepat lenyap dari penglihatan si semut.

Dongeng Nelayan dan Ikan Kecil (Aesop)

Seorang nelayan miskin yang hidup berdasar ikan hasil tangkapannya, di suatu hari alami nasib kurang untung dan nyaris tidak memperoleh tangkapan apa saja selainnya satu ekor ikan kecil. Saat si Nelayan itu akan masukkan ikan itu ke keranjang yang dibawa, ikan kecil itu berbicara:

“Minta bebaskan saya, tuan nelayan! Saya benar-benar kecil sampai tidak bernilai untuk dibawa pulang ke rumah. Saat saya jadi lebih besar kelak, saya bisa menjadi makanan yang lebih sedap untuk tuan.”

Tapi si Nelayan masih tetap menyimpan ikan itu di keranjangnya.

“Begitu bodohnya saya bila melepas ikan ini.” kata Nelayan. “Bagaimana kecilpun ikan yang saya tangkap, masih tetap lebih bagus dibanding tidak ada tangkapan sama sekalipun. “